Sabtu, 28 November 2009

Peternakan Rakyat Mendominasi Peternakan Nasional


Usaha peternakan nasional hingga saat ini masih didominasi usaha peternakan rakyat. Jumlahnya mencapai lebih dari 95 persen dari jumlah keseluruhan peternak di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/5). "Usaha peternakan rakyat jumlahnya mencapai lebih dari 95 persen dari jumlah keseluruhan peternak di Indonesia," kata Anton, di sela rapat paripurna dengan agenda pembicaraan tingkat II/Pengambilan Keputusan atas RUU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Anton memaparkan adanya UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan kebutuhan mendesak dalam memberikan perlindungan kepada peternak dan usaha peternakan rakyat. Selain itu, ia menilai UU No 6/1997 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah tidak relevan lagi untuk dijadikan payung hukum dan acuan dalam melaksanakan pembangunan subsektor peternakan karena dijumpai berbagai kekurangan.

"UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah sangat mendesak segera diselesaikan karena di samping kemampuannya dalam memberikan perlindungan kepada ternak dari berbagai penyakit, pada saat yang sama juga memberikan perlindungan kepada peternak dan usaha peternakan rakyat," ujarnya.

Ditinjau dari berbagai sudut pandang, lanjutnya, sudah sewajarnya subsektor peternakan dan kesehatan hewan menjadi subsektor yang sangat strategis dalam mendukung kemajuan bangsa dan negara. UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan mengamanatkan pembentukan dua UU yang bersifat lex spesialis, yaitu UU tentang Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Daya Genetik dan UU tentang Praktik Kedokteran Hewan dan Ketentuan Veteriner.

Sumber :
ANI
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/12/15205564/peternakan.rakyat.mendominasi.peternakan.nasional
12 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://www.pontianakpost.com/uploads/berita/dir27042009/img27042009179611.jpg

Jumat, 27 November 2009

Peternakan Terpadu Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah

Aset usaha peternakan antara lain kandang (sapi perah, sapi penggemukan, domba, kambing perah) seluas 10.000m2, lapangan rumput seluas 3 Ha lebih, unit pengolahan hasil susu, pembuatan pupuk bokasi dan intalasi biogas serta kolam ikan. Program unit usaha peternakan antara lain pengembangan jumlah dan kualitas ternak, diversifikasi usaha, pengelolaan produksi spesifik dari hulu sampai hilir seperti mendirikan pusat pelatihan bisnis peternakan, pembangunan pabrik pakan ternak dengan kapasitas produksi 100 ton/hari. Pengolahan hasil peternakan seperti susu pasturisasi (kambing dan sapi) dan yogurt dari susu sapi.

Lingkup dan fungsi Unit Peternakan antara lain : Peternakan Sapi Perah untuk produksi Susu Sapi Murni, Penggemukan Domba Jantan untuk Iedul Qurban dan Aqiqah, Peternakan Kambing PE untuk produksi Susu Kambing Murni, Produksi biogas untuk lingkungan peternakan, Pompa hidram untuk memenuhi kebutuhan air di kandang, Perkebunan Hijauan Makanan Ternak (HMT), Pabrik pakan ternak untuk pakan kebutuhan penggemukan ternak, Sarana Pendidikan Santri dalam Pelajaran dan Praktek Peternakan.

Produksi susu sapi murni dengan pola pemasaran : (i) distribusi langsung ke konsumen dengan cara langganan atau kontan, (ii) penjualan ke KPS dan (iii) distribusi langsung ke industri kecil pengolah susu. Sistem pembayaran dengan cara kontan dan bayar bulanan. Harga susu bervariasi yaitu (i) Rp 4000,- jika dijual langsung ke konsumen, (ii) Rp 2500,- per liter jika dijual ke industri kecil dan (iii) Rp 1800,- jika dijual ke KPS. Produktifitas rata-rata 9 liter per sapi per hari, atau total 80 – 120 liter susu per hari.Peluang pasar baru yaitu (i) penjualan susu pasteurisasi dan (ii) penjualan produk olahan susu menjadi Yoghurt (peningkatan nilai tambah), pudding, dll (iii) jual beli anak sapi perah. Sasaran pasar adalah Jakarta, Bogor dan sekitarnya.

Produksi susu kambing murni dengan pola pemasaran yaitu : distribusi langsung ke konsumen tidak tetap atau tetap. Sistem pembayaran dengan cara kontan. Harga susu kambing yaitu Rp 12.000,- harga langsung konsumen wilayah Bogor, sedangkan wilayah Jakarta bervariasi antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000,- per liter. Karena masih terbatasnya jumlah kambing laktasi maka produktifitas total adalah 10 liter per hari. Peluang pasar baru yaitu : (i) penjualan susu kambing pasteurisasi dan (ii) penjualan produk olahan susu kambing menjadi Yoghurt (iii) jual beli bakalan kambing PE.

Penggemukan domba selama 100 hari : Pada hari raya kurban dijual untuk melayani masyarakat lingkar pesantren dan wilayah Bogor Jakarta, sedangkan di luar hari raya kurban, pemasaran langsung di pasar atau permintaan katering dan akikah. Sistem pembayaran dengan cara kontan. Peluang pasar baru yaitu (i) penjualan domba reguler (ii) peningkatan kapasitas kandang untuk melayani kebutuhan hari raya kurban, (iii) penjualan bakalan domba. Sasaran pasar baru adalah Jakarta, Bogor dan Banten.

Sumber :
http://www.darulfallah.org/index.php?option=com_content&view=article&id=69&Itemid=93
28 November 2009

Revitalisasi Peternakan Sapi Perah harus Digalakkan

ndonesia merupakan negara sedang berkembang yang memiliki karakteristik laju pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dibarengi dengan laju pertumbuhan yang pesat. Peningkatan jumlah penduduk saat ini memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan permintaan (demand) produk pangan masyarakat. Selain itu, perkembangan masyarakat saat ini lebih ke arah yang lebih maju baik dari segi pendapatan maupun tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya nilai gizi pangan. Hal ini membuat masyarakat cenderung lebih meningkatkan konsumsi pangan yang mengandung gizi tinggi. Salah satu produk pangan yang terus mengalami peningkatan permintaan setiap tahunnya adalah susu. Peningkatan tersebut ditandai dengan meningkatnya konsumsi susu per kapita dari tahun ke tahun, mulai dari 5,79 kg/kapita pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 6,8 kg/kapita pada tahun 2005 (Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2009).

Menurut Ditjennak, Peningkatan konsumsi susu nasional tidak diimbangi dengan peningkatan produksi susu nasional. Dimana konsumsi susu masyarakat Indonesia terus meningkat dari 883.758 ton pada tahun 2001 menjadi 1.758.243 ton pada tahun 2007 atau terjadi peningkatan sebesar 98.9% selama kurun waktu 6 tahun dan diprediksikan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Produksi susu yang tidak berkembang tersebut dapat kita lihat dari jumlah populasi sapi yang relatif tetap (stagnant), bahkan produksi dan produktivitas susu menunjukkan trend yang menurun dari tahun ke tahun akibat terbatasnya kemampuan produksi susu nasional. Oleh karena itu, pemerintah melakukan impor susu dari beberapa negara pengekspor susu antara lain Australia, Perancis dan Selandia Baru.

Secara umum, peternakan sapi perah di Indonesia telah dimulai sejak abad ke-19 yaitu dengan pengimporan sapi-sapi bangsa Ayrshire, Jersey, dan Milking shorthorn dari Australia. Pada permulaan abad ke-20 dilanjutkan dengan mengimpor sapi-sapi Fries-Holand (FH) dari Belanda. Sapi perah yang dewasa ini dipelihara di Indonesia pada umumnya adalah sapi FH yang memiliki produksi susu tertinggi dibandingkan sapi jenis lainnya (Sudono, 1999). Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 751/kpts/Um/10/1982 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Peningkatan Produksi Dalam Negeri, usahatani sapi perah dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, peternakan sapi perah rakyat yaitu usaha tani sapi perah yang diselenggarakan sebagai usaha sampingan yang memiliki sapi perah kurang dari 10 ekor sapi laktasi (dewasa) atau memiliki jumlah keseluruhan kurang dari 20 ekor sapi perah campuran. Kedua, perusahaan peternakan sapi perah, yaitu usaha ternak sapi perah untuk tujuan komersil dengan produksi utama susu sapi, yang memiliki lebih dari 10 ekor sapi laktasi (dewasa) atau memiliki jumlah keseluruhan lebih dari 20 ekor sapi perah campuran.

Pengembangan sektor peternakan khususnya usaha ternak sapi perah di Indonesia saat ini perlu dilakukan karena kemampuan pasok susu peternak lokal saat ini baru mencapai 25 persen sampai 30 persen dari kebutuhan susu nasional (Direktorat Jenderal Peternakan, 2007). Besarnya volume impor susu menunjukkan prospek pasar yang sangat besar dalam usaha peternakan sapi perah untuk menghasilkan susu sapi segar sebagai produk substitusi susu impor.

Meningat kondisi geografis, ekologi dan kesuburan lahan di beberapa wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang cocok dalam pengembangan peternakan sapi perah (agribisnis persusuan) serta besarnya kekurangan susu dalam negeri, sebenarnya banyak sekali kerugian yang diperoleh Indonsia akibat dilakukannya kebijakan impor susu. Diantaranya adalah terkurasnya devisa nasional, tidak dimanfaatkannya potensi sumber daya manusia yang ada khususnya masyarakat pedesaan untuk pengembangan agribisnis persusuan, dan hilangnya potensi pendapatan yang seharusnya diperoleh pemerintah dari pajak apabila agribisnis persusuan ini dikembangan secara baik.

Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2007), perkembangan ekspor susu olahan dan impor susu bubuk (Skin Milk Powder-SMP) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari tahun 2003-2006, volume ekspor dan produk susu olahan tertinggi dicapai pada tahun 2003 sebesar 49.593.646 kg dengan nilai US $54.830.373. Sedangkan, volume impor tertinggi juga dicapai pada tahun 2005 sebesar 173.084.444 kg dengan nilai US $399.165.422. Dari angka tersebut, terlihat bahwa volume impor susu jauh lebih besar daripada volume ekspornya. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi perkembangan peternakan sapi perah di Indonesia masih jauh dari target.

Pada waktu penulis mengadakan survei lapangan untuk penelitian, penulis menyempatkan diri untuk dapat berbincang-bincang dengan Ketua Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPSBU) yang juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) di Lembang. Dari hasil pembicaraan tersebut, harga susu lokal (nasional) yang dijual kepada Industri Pengolah Susu (IPS) per liternya pada tahun 2008 sebesar Rp 3.400, sedangkan harga susu impor mencapai Rp 4.000-5.000 per liternya. Di tahun yang sama, IPS juga tetap menuntut penurunan harga beli susu di tingkat peternak dan koperasi, bahkan sejak Desember 2008 harga pembelian susu oleh IPS sudah turun, tutur Ketua KPSBU. Harga susu impor dapat menjulang tinggi karena pengaruh dari krisis ekonomi global yang terjadi sepanjang tahun 2008 lalu. Hal ini membuat pemerintah menghapus tarif impor susu sebagai “Program Stimulus Fiskal” untuk mengatasi masalah tingginya harga susu di tingkat konsumen serta dan juga ditujukan untuk membuat industri pengolah susu (IPS) tetap mampu bertahan dalam kondisi krisis keuangan global(1).

Peraturan mengenai penghapusan tarif impor susu (sebesar 5%) tersebut diterbitkan Departemen Keuangan berdasarkan Permenkeu No. 145/PMK.011/2008 tentang Bea Masuk Ditanggung Pemerintah Atas Impor Barang dan Bahan oleh Industri Pengolahan Susu untuk Tahun Anggaran 2008, dengan nilai Rp 107 milyar untuk periode November-Desember 2008. Sementara pada 2009, kebijakan ini tetap dilanjutkan sesuai dengan UU No. 41 tentang APBN tahun 2009, untuk sektor industri yang membutuhkan dalam rangka daya saing industri yang bersangkutan(1). Kebijakan yang bertujuan untuk melindungi IPS tersebut diduga memiliki efek negatif terhadap para produsen susu lokal. Penurunan tarif impor susu dari luar negeri diduga berpengaruh kuat terhadap posisi tawar koperasi peternak susu dengan IPS, sehingga akan menyebabkan turunnya harga beli dari IPS yang berdampak merugikan para peternak sapi perah lokal.

Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan oleh penulis di wilayah kerja Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPSBU), Lembang, usaha agribisnis persusuan di Indonesia didominasi oleh skala kecil dengan kepemilikan ternak sapi laktasi kurang dari empat ekor (80%), skala menengah dengan kepemilikan ternak sapi laktasi antara empat sampai dengan 10 ekor dan skala besar dengan kepemilikan ternak sapi laktasi lebih dari 10 ekor.

Menurut Firman (2007), seiring dengan perkembangan waktu, perkembangan agribisnis persusuan di Indonesia dibagi menjadi tiga tahap perkembangan, yaitu Tahap I (periode sebelum tahun 1980) disebut fase perkembangan sapi perah, Tahap II (periode 1980-1997) disebut periode peningkatan populasi sapi perah, dan Tahap III (periode 1997-sampai sekarang) disebut periode stagnasi. Stagnasi tersebut menyebabkan sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk memenuhi kebutuhan susu dalam negeri. Hal ini terjadi akibat banyaknya kendala dalam melakukan pengembangan usaha ternak sapi perah seperti keterbatasan modal, tingginya harga pakan konsentrat, keterbatasan sumber daya dan juga lahan untuk penyediaan hijauan, minimnya rantai pemasaran susu. Hal lain yang menjadi kelemahan dalam usaha ternak sapi perah adalah terbatasnya teknologi pengolahan kotoran hewan ternak saat ini yang menyebabkan pencemaran lingkungan di sekitar area peternakan sapi perah seperti air sungai, selokan dan sebagainya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa peran serta pemerintah sangat diperlukan. Penulis berusaha merancang 14 (empat belas) program strategis yang dapat dikembangkan oleh pemerintah, yaitu:

1. Pengusahaan kredit sapi perah dengan bunga yang minim untuk meringankan para peternak,
2. Mengembangkan bibit sapi perah yang unggul dan berkualitas untuk meningkatkan produktivitas susu,
3. Mensubsidi biaya kesehatan hewan dan jasa dokter hewan kepada peternak sapi perah,
4. Membuat pabrik pakan tersendiri yang khusus untuk memproduksi pakan konsentrat hewan ternak dengan harga yang dapat dijangkau oleh peternak skala kecil, menengah dan besar,
5. Mengadakan pelatihan pengolahan kotoran hewan ternak agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan tidak mencemari lingkungan,
6. Mengatur kebijakan perdagangan yang lebih transparan terhadap pajak bea masuk susu impor agar dapat melindungi harga susu domestik,
7. Membuat Industri Pengolah Susu (IPS) Nasional agar peternak tidak harus menjual susunya kepada pihak swasta dan juga dapat memberikan keuntungan yang maksimal dari hasil penjualan susu per liternya,
8. Merangkul Koperasi Susu dan Industri Pengolah Susu (IPS) besar seperti PT. Frisian Flag Indonesia, PT. Ultra Jaya, PT. Indomilk dan sebagainya dalam rangka penetapan harga beli susu yang lebih jujur, adil dan bijaksana,
9. Melakukan pengontrolan secara berkala terhadap Industri Pengolah Susu (IPS) dalam hal rasio penggunaan bahan baku susu lokal dan impor,
10. Menciptakan brand susu nasional yang berkualitas dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat kecil maupun menengah dengan sistem penjualan direct-selling maupun door to door,
11. Memberikan subsidi khusus kepada peternak agar masyarakat mulai tertarik untuk memulai usaha ternak agribisnis sapi perah dalam meningkatkan volume produksi susu nasional,
12. Memberikan proteksi nasional secara khusus terhadap banjirnya produk impor akibat perdagangan bebas,
13. Mengatur kebijakan bea masuk (tarif impor) yang lebih prospektif untuk menghindari persaingan harga susu impor dan nasional,
14. Membuat program khusus minum susu secara nasional “Satu Hari Satu Gelas” untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat Indonesia

Semoga dengan dikembangkannya ke-14 (empat belas) program strategis diatas, penulis berharap dapat membantu para perumus kebijakan pemerintah dalam meningkatkan ekonomi lokal terhadap efisiensi usaha dan daya saing komoditi susu nasional di era globalisasi ini.

Penulis juga sangat mendukung Program Kerja 100 hari Pemerintah untuk segera menggenjot revitalisasi industri dalam kerja lima tahun kedepan. Hal ini diharapkan sektor industri peternakan sapi perah dapat menyerap cukup banyak lapangan pekerjaan sekaligus mengurangi tingkat pengangguran. Selain itu, pemerintah diminta untuk lebih mendorong pemberdayaan industri hilir (up-stream) atau pengolahan yang yang berbasis pada sumber daya lokal khususnya agribisnis persusuan karena jika difasilitasi dengan baik, maka kita dapat memenuhi permintaan susu dalam negeri secara maksimal tanpa harus bergantung dengan produk susu impor yang harganya terkadang lebih murah dari harga susu nasional(2).


Daftar Pustaka
Firman, Achmad. 2007. Manajemen Agribisnis Sapi Perah : Suatu Telaah Pustaka. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Bandung
Sudono, Adi. 1999. Ilmu Produksi Ternak Perah. Jurusan Ilmu Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
[Ditjennak] Direktorat Jenderal Peternakan. 2008. Statistik Peternakan 2008. Jakarta: Departemen Pertanian
1Tawaf R. 2 Februari 2009. Stimulus Fiskal Untungkan Industri Susu. Pikiran Rakyat
2Wahyu Satriani Ari Wulan. 26 Oktober 2009. Hatta: Pemerintah Bakal genjot Industri Hilir. Kompas.com

Sumber :
Muhamad Nasrul Pradana
Sekretaris Umum IASA (Indonesian Agricultural Sciences Association)-
http://www.iasa-pusat.org/
Interpreter JAEC (Japan Agricultural Exchange Council)-
http://www.jaec.org/
Penanggung Jawab BPT-PPI Kanto-
http://garuda-ppikanto.org/

http://www.iasa-pusat.org/latest/revitalisasi-peternakan-sapi-perah-harus-terus-digalakkan.html
10 November 2009

Vegetarian dan Global Warming

Global warming bukan hal yang asing lagi bagi kita dan merupakan isu yang dapat membuka mata semua penghuni bumi untuk lebih memerhatikan tempat tinggalnya, mungkin termasuk kita. Dalam hal ini, isu global warming tak hanya berkutat soal ilmiah, ia juga bermain di segi ekonomi, sosiologi, geopolitik, sampai gaya hidup. Sayangnya, walau telah dideteksi sejak awal, isu ini baru mendapat coverage luas di tahun 1990-an. Di Inggris, The Times dan Guardian membahas soal ini baru sejak tahun 1989--tetapi masih berkutat soal perdebatan ilmiah.

Lalu apa kaitannya global warming dengan vegetarian? Sebelum kita mengetahui kaitan vegetarian dengan pencegahan atau salah satu cara untuk memperkecil kerusakan yang besar, sebaiknya kita ketahui apa itu vegetarian. Istilah Vegetarian sendiri diciptakan pada tahun 1847. Pertama kali digunakan secara formal pada tanggal 30 September tahun itu oleh Joseph Brotherton dan lain-lain, di Northwood Villa, Kent, Inggris. Saat itu adalah pertemuan pengukuhan dari Vegetarian Society Inggris. Kata ini berasal dari bahasa Latin vegetus, yang berarti keseluruhan, sehat, segar, hidup; (jangan dihubungkan dengan 'vegetable-arian' - mitos manusia yang diimajinasikan hidup seluruhnya dari sayur-sayuran tetapi tanpa kacang, buah, biji-bijian, dan sebagainya). Sebelum tahun 1847, mereka yang tidak makan daging secara umum dikenal sebagai 'Pythagorean' atau mengikuti 'Sistem Pythagorean', sesuai dengan Pythagoras 'vegetarian' dari Yunani kuno. Definisi asli dari 'vegetarian' adalah dengan atau tanpa telur atau produk dairy dan definisi ini masih digunakan oleh Vegetarian Society hingga sekarang. Bagaimanapun juga, kebanyakan vegetarian di India tidak memasukkan telur ke dalam diet mereka, seperti juga mereka dari tanah Mediteranian klasik, sebagai contoh Pythagoras. (Dikutip dari wikipedia)


Vegetarian dan Global Warming

Ternyata, vegetarian bisa membantu kita untuk menyelamatkan bumi ini, walaupun tidak berdampak langsung tetapi setidaknya kita bisa memperlambat kerusakan yang lebih besar. Banyak alasan seseorang menjadi Vegetarian, mulai dari karena ia seorang penyayang binatang (Animal's Sake), Hidup lebih berwarna seperti sayuran dan bauh-buahan yang warna-warni, ingin hidup/sehat lebih lama, berat badannya stabil, hemat dan itu adalah manfaat yang dapat segera dirasaka oleh Vegetarian, tapi secara tidak langsung seorang vegetarian juga ikut mencegah pemanasan global. Mungkin diantara kita ada yang berpikir kenapa demikian, mengapa Vegetarian dapat mencegah pemanasan global? Bukankah Vegetarian suka makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, yang juga berarti merusak tanaman yang akhirnya menyebabakan global warming. Pertanyaaan dan pertanyaan yang terdengar dilematis tetapi ternyata tidak, bahkan dari pernyataan dan pertanyaan tersebut kita bisa menegaskan kalau vegetarian dapat mencegah pemanasan global.

Berdasarkan fakta yang diungkap FAO tahun 2006 menjelaskan bahwa daging merupakan komoditi penghasil emisi karbondioksida paling tinggi (20%). Ini bahkan melampaui jumlah emisi gabungan dari semua kendaraan di dunia. Karena ternyata industri ternak telah menghasilkan 9% racun karbondioksida, 65% nitrooksida, dan 37% gas metana. Selain itu, industri ternak juga memerlukan banyak energi untuk mengubah ternak menjadi daging siap konsumsi. Untuk memproduksi 1 kg daging saja misalnya, dihasilkan emisi karbondioksida 36,4 kilo.

Selain itu Vegetarian juga dapat menghemat energi, di mana saat ini atau yang akan datang energi menjadi sangat mahal dan semakin banyak energi yang digunakan maka akan juga menyumbang untuk pemanasan global (global warming). Saat ini krisis energi dan pangan merebak ke seantero muka bumi. Salah satunya untuk menghemat energi dengan menjadi vegetarian atau setidaknya kurangi sumber makanan hewani. Seperti dijelaskan di atas, bahan makanan hewani membutuhkan lebih banyak konsumsi energi dalam produksi dan suplainya dibanding makanan nabati. Menurut U.S. Geological Survey, untuk membuat satu tangkup hamburger, misalnya membutuhkan setidaknya 1.300 galon air. Jadi, tidak heran jika produk pangan hewani dan junk food memerlukan lebih banyak energi dibanding dengan mengolah sayuran, buah dan beras.PP

Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:a. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak: Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya, Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG), Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 miliar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan, Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak, karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya 2. Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan b. Emisi karbon dari ternak: Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya, Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.

Dari uraian di atas, Anda bisa melihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab global warming yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Sekarang giliran kita untuk bisa mengambil sikap untuk menjaga bumi kita tetap baik sampai kepada keturunan kita selanjutnya atau kita hanya menginginkan keturunan kita kelak merasakan hasil dari apa yang telah kita perbuat sebelumnya. Tidak ada salahnya mencoba karena selain tubuh kita bisa sehat, bumi kita juga tetap sehat untuk kita tinggali tanpa harus merasa cemas.

Sumber :
Lia Handayani, mahasiswi FKM USU
http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25238:vegetarian-dan-global-warming&catid=57:gagasan&Itemid=65
26 Juli 2009

Fakta Tentang Peternakan, Kaitannya Dengan Global Warming

Pada tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah memperkirakan bahwa pemeliharaan ternak untuk produksi daging dan susu bertanggung jawab terhadap 18% pemanasan global.

Hal tersebut membuat kenyataan semakin jelas bagi para ilmuwan bahwa industri peternakan ternyata memberi dampak yang sangat signifikan.

Dr. Rajendra Pachauri, kepala Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) berkomentar dalam sebuah pidato yang beliau berikan pada bulan September 2008 mengenai peran pengurangan konsumsi daging dalam menghadapi pemanasan global.

Dr. Rajendra Pachauri – Kepala Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, VEGETARIAN (L): Sejak orang-orang mendengar hal yang saya sampaikan hari ini, saya telah menerima sejumlah email dari orang-orang yang menyatakan bahwa Saya setuju bahwa angka 18% adalah penaksiran yang terlalu rendah; tetapi pada kenyataannya dampaknya sebenarnya jauh lebih tinggi.

SUARA: Gas-gas rumah kaca diemisikan selama hampir setiap proses produksi daging. Dari tiga gas rumah kaca utama: karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, metana 72 kali lebih berpotensi daripada CO2, sementara dinitrogen oksida 300 kali lebih berpotensi daripada CO2.

Untuk menghitung pontesi dari gas metana, metode yang digunakan saat itu adalah dengan metode rata-rata selama periode 100 tahun. Tetapi pada kenyataannya, metana adalah gas yang eksis dalam waktu yang jauh lebih singkat. Oleh karena itu, para ilmuwan telah menyatakan bahwa lebih akurat jika potensi metana dihitung selama 20 tahun, sehingga hal ini menunjukkan bahwa metana sebagai sebuah gas rumah kaca mempunyai potensi pemanasan 72 kali lebih besar daripada CO2.

Ahli ilmu fisika AS, Noam Mohr dari Institut Politeknik Universitas New York menyatakan hal berikut dalam sebuah wawancara dengan Supreme Master Television.

Suara Noam Mohr – Ahli Ilmu Fisika, Institut Politeknik Universitas New York, Amerika Serikat, VEGETARIAN (L): Ketika diukur selama 100 tahun, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa peternakan hewan bertanggung jawab sebesar 18% terhadap emisi-emisi pemanasan global, dan itu merupakan jumlah yang sangat besar, jauh lebih banyak daripada emisi seluruh transportasi di dunia yang digabungkan.

Jika Anda melihat pada jangka waktu yang lebih pendek, metana mempunyai dampak yang sangat besar, dan oleh karena itu angkanya menjadi membesar. Jika kita menghitung dalam jangka waktu yang singkat maka angka yang sebenarnya akan jauh lebih tinggi.

Profesor Barry Brook (L): Jadi, jika Anda melihat pada laporan-laporan ini, mereka akan menyatakan bahwa metana memiliki dampak sekitar 25 kali CO2. Tetapi sungguh, ketika metana sudah berada di atas sana, di atmosfer dan bereaksi, ia akan mempunyai dampak 72 kali lebih besar dari CO2 dan itu mempunyai pengaruh yang sangat besar.

Dengan tingkat emisi metana global sebesar 37%, peternakan merupakan sumber tunggal terbesar dari metana yang ditimbulkan oleh manusia. Dr. Kirk Smith Profesor di Universitas Kalifornia – Berkeley, AS (L): Tentu kita harus menghadapi CO2, tetapi jika Anda ingin memperbaiki iklim dalam 20 tahun ke depan, kita harus berkonsentrasi pada gas-gas rumah kaca yang mempunyai umur yang lebih singkat, dan yang terpenting dalam hal ini adalah metana.

Jadi, dalam perkiraan emisi untuk 20 tahun ke depan, CO2 dalam emisi tahun ini hanya akan sekitar 40% dari jumlah pemanasan keseluruhan.

Sedangkan 60% lainnya atau lebih daripada itu berasal dari gas-gas yang berusia lebih pendek, terutama gas metana.

SUARA: Selain itu, menurut ahli ilmu fisika AS, Noam Mohr, peternakan memberi sumbangan emisi yang bahkan lebih besar jika kita memasukkan faktor lainnya yang belum terhitung: Aerosol, atau partikel-partikel yang dilepaskan bersama dengan CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil, meskipun berbahaya terhadap aspek kesehatan, tetapi sesungguhnya memiliki efek pendingin.

Noam Mohr – Ahli Fisika dengan gelar yang ia peroleh dari Universitas Yale dan Universitas Pennsylvania, AS, VEGETARIAN (P): Saat kita mempertimbangkan aerosol dan efek netto dari pembakaran bahan bakar minyak, pengeluaran karbon dioksida memanasi planet sedangkan aerosol mendinginkan planet, jadi efek netto secara kasar menjadi impas.

Itu berarti sebagian besar dari efek pemanasan yang kita lihat dalam sejarah dan yang mungkin akan kita lihat di masa mendatang, berasal dari gas lainnya, yaitu gas metana.

Dr. Kirk R. Smith – Dosen, Universitas Kalifornia – Berkeley, AS (P): Peternakan telah menyumbang 20% dari semua emisi gas rumah kaca, tapi maafkan saya, sistem daging juga mencakup hewan ternak, penanaman panen untuk makanan hewan, transportasi untuk daging tersebut, dan pupuk untuk menumbuhkan panen untuk memberi makan ternak tersebut. Itu menambah gas metana lebih banyak daripada cara biasa yang dipergunakan.

Dr. Kirk R. Smith (P): Jika kita mengolah dengan lebih banyak lagi, maka 20% tersebut mungkin akan meningkat menjadi 30%. Jadi 30% dalam 20 tahun mendatang adalah akibat dari produksi daging.

SUARA: Dr. T. Collin Campbell, seorang peneliti yang terkenal dan pengarang buku terlaris internasional “The China Study”, juga menunjukkan bahwa dampak peternakan dalam memanasi planet jauh lebih besar.

Dr. T. Colin Campbell – Peneliti nutrisi yang terkenal, Universitas Cornell, AS, VEGAN (P): Saya baru saja mendapat informasi jumlah yang baru yang menunjukkan bahwa peternakan setidaknya menghasilkan setengah dari gas-gas rumah kaca yang ada sekarang ini, dan mungkin juga lebih dari itu. Jadi bukan 15% atau 20%.

SUARA: Kami berterima kasih kepada para ilmuwan karena telah menegaskan pentingnya pengurangan konsumsi daging untuk mengurangi emisi gas metana. Semoga setiap orang segera bergabung dengan solusi nabati yang berkelanjutan agar kita dapat mengerem pemanasan global secara efektif bagi semua penghuni Bumi.

Dalam konferensi video di bulan Juli 2008 dengan anggota Asosiasi di Thailand, Maha Guru Ching Hai mengungkapkan kenyataan tentang dampak kumulatif dari peternakan hewan terhadap pemanasan global.

Produksi daging menyebabkan 80% pemanasan global

Maha Guru Ching Hai: Karena polusi peternakan juga meliputi berbagai hal: Transportasi, pemborosan air, penebangan hutan, pendinginan, pemeliharaan, perawatan medis bagi hewan dan manusia, dan sebagainya, itulah segala jenis polusi yang berasal dari produksi daging. Bukan hanya lahan yang mereka gunakan, bukan hanya gas metana dan gas dinitrogen oksida saja, itu semua adalah produk sampingan, tidak ada akhir dari daftar tersebut.

Kita tidak dapat tergantung pada teknologi hijau saja untuk menyelamatkan Bumi.

Karena penyebab terburuk dari hal itu berasal dari industri daging. Setiap orang mengetahuinya, semua ilmuwan telah melaporkannya kepada kita.

Sumber :
http://www.yauhui.net/fakta-tentang-peternakan-kaitannya-dengan-global-warming/
26 Juli 2009

Usaha Peternakan Kelinci

Ada banyak cara untuk memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan perekoomian. Salah satunya adlah apa yang telah dilakukan waraga desa sendang sari Minggir jogja yang menghimpun diri untuk membuat kelompok peternakan kelinci.

Alasan pengembangan usaha peternakan kelinci adalah untuk pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu. Terlebih lagi untuk bahan makanan kelinci yang tidak terlalu sulit dan mahal yaitu berupa rumput.
Salah satunya adAlah Suharyanto, Yang tinggal di dukuh bandan desa sendangsari kecamatan minggir kabupaten Sleman. Alasan pemilihan jenis ternak kelinci ini adalah karena perawatannya mudah, yaitu pakannya Cuma rumput. Pakan tambahan katul, untuk penggemukkan.

Sebelum memulai ternak kelinci, Suharyanto mengunjungi peterna-peternak kelinci dengan skala besar dan cukup lama menggeluti usaha ini untu bertanya mengenai prospek usaha tersebut. Menurut mereka, usaha ternak kelinci prospeknya sangat bagus. Bukan Cuma dagingnya saja yang bisa dimanfaatkan tetapi kotorannya juga laku dijual, misal urin dan kotoran padat.

Dari segi produksi ternaknya, sepasang indukan bisa mengalami masa kawin 3 kali dalam setahun. Kawin bunting 1 bulan, lahir hingga usia anakan 2 bulan bisa dijual. 1 minggu s.d 10hari, indukan bisa dikawinkan lagi. Sekali melahirkan, setiap indukan bisa menghasilkan rata-rata jumlah anakan bisa mencapai 6-7 ekor. Jenis bibt bermacam-macam, yaitu:

1. Jenis ram, khusus untuk kelinci peternak atau pembibitan, diperoleh dari peternak pembibitan

2. Jenis bigon, khusus untuk kelinci pedaging atau konsumsi (sate atau tongseng), hasil persilangan antara jawa dengan ram, yang diperoleh dari peternak.

Awal Modal pertama 1 babon/indukan, setelah berjalan beberapa waktu kok dirasa mudah, akhirnya menambah 1 indukan lagi. Seorang famili melihat prospek kelinci tersebut tertarik untuk memberi modal. Modal untuk kandang 2juta, bibit 3 juta, kandang kecil 1juta dan sekarang mencapai 15 ekor indukan pada akhir januari 2009.

Untuk Pakan kelinci adalah rumput: biasanya mencari sendiri karena di lingkungan sekitar banyak, dan sebelum diberikan ke kelinci harus dibiarkan dahulu sampai layu karena rumput dalam kondisi segar dan basah mengandung banyak air sehingga bisa mengakibatkan kelinci kembung yang cukup riskan untuk kesehatan kelinci.

Untuk merangsang pertumbuhan kelinci pedaging, diberi makan katul dan ampas gandum. Sedangkan peternak besar biasanya katul dicampur ampas tahu yang sudah diperas, komposisi ini lebih bagus untuk kelinci. Biaya pakan, katul Rp1600/kg, untuk 15 indukan butuh 10kg/minggu.


Penyakit Kelinci

Dalam beternak kelinci, hal yang paling penting unutk diperhatikan adalah kebersihan kandang karena akan menjauhkan unsur penyakit, terutama gudik/korengan. Kelinci sangat riskan dengan penyakit gudik, bila sudah terlanjut terjangkiti maka tinggal disuntik dengan wermaisin sehingga koreng bisa langsung kering.

Yang kedua, harus teliti dalam mengamati kesehatan kelinci. Apabila kondisi kotoran kelinci dalam kondisi cair, harus segera ditangani. Kesulitan yang dihadapi dalam beternak kelinci, mayoritas peternak mengalami kesulitan dalam proses melahirkan anakan-anakan kelinci, terutama pada kondisi cuaca yang tidak menentu atau pergantian suhu yang signifikan.

Bila kondisi stabil dalam kondisi suhu panas atau dingin dalam waktu yang cukup lama, kondisi ini bagus dan mempermudah bagi indukan yang mau melahirkan. Tetapi bila kondisi suhu yang berubah-ubah cukup drastis, hal ini akan menyulitkan indukan ketika mau melahirkan.

Dalam manajemen usahanya, setiap pengeluaran selalu dicatat. Begitu pula, jumlah indukan dan jumlah anakan yang baru lahir. Setiap kelahiran anakan selalu disisakan 1 ekor untuk regenerasi, lainnya dijual. Organisasi usaha belum ada karena masih ditangani sendiri. Hanya saja, tergabung dalam kelompok peternak dan sudah tercatat di PPL Kecamatan Minggir.


Pemasaran

Sebelum melakukan pemasaran menjalin hubungan dengan peternak-peternak besar, selalu konsultasi atau crosscheck dengan peternak-peternak besar karena peternak-peternak besar sering kesulitan dalam memenuhi permintaan konsumen langsung (end user).

Untuk Jenis Kelinci hias, ada beberapa jenis dan paling diminati adalah three colour (3 warna) dan segmennya adalah menengah ke atas. Papilon atau dua warna. Martin, bagian atas hitam dan perut putih.

Kelebihan kelinci hias, bulunya halus. Jenis vlam, postur tubuhnya panjang dan besar serta mempunyai telinga yang lebar. Jenis spot, spot hitam dan spot merah, termasuk kelinci unggulan. Jenis vlam dan spot termasuk kelinci yang banyak diminati oleh hobiis.


Kompetitor

Diantara peternak kelinci tidak ada rasa persaingan dan setiap peternak selalu menjalin kerjasama dengan peternak lain. Terutama peternak-peternak besar selalu mau membantu atau memberi bimbingan kepada peternak-peternak pemula dalam menjalankan usaha ini.


Harga

Harga kelinci tergantung usianya. Jenis vlam atau spot ukuran besar dengan usia 2 bulan bisa mencapai Rp150.000/pasang. Ukuran sedang Rp60-70ribu/pasang. Bligon (jawa-vlam) usia 2 bulan Rp40-50rb. Kalo indukan, bligon diatas 160rb/ekor tergantung postur tubuh. Spot dan vlam indukan diatas Rp200rb, tergantung postur tubuhnya juga.

Pemasaran hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan peternak besar dalam melayani klien mereka dan bila terjadi kesepakatan harga, jika jumlahnya sedikit, kelinci bisa diantar atau pembeli (peternak besar) ambil sendiri jika jumlahnya cukup banyak.

Vlam dan spot usia 4-5 bulan Rp150-200rb/ekor, tergantung ukuran dan kondisi fisik. Bligon usia 4-5 bulan Rp50-60rb/ekor. Rex three color 4-5bulan Rp100-150rb, tergantung ukuran dan kondisi fisik.


Keuangan

Omset siklus produksi 3 bulan, dalam kondisi lancar, setelah masa bunting 1 bulan dimana rata-rata setiap 1 indukan menghasilkan 6 ekor anakan≈3 pasang dan 2 bulan kemudian anakan dijual dengan harga Rp60rb/pasang. Sebagai pemula, dengan kondisi suhu yang selalu berubah-ubah, tingkat kelahiran sangat kecil. Dari 6-7 ekor yang lahir hanya berhasil 2 ekor.

Sumber :
http://bisnisukm.com/usaha-peternakan-kelinci.html
6 Oktober 2009

Peternakan dan Perikanan di Tengah Krisis Global

Sebagai sektor penghasil pangan strategis, sektor peternakan dan perikanan, bersama sektor pertanian lainnya, mengalami dua kondisi berbeda yang agak ekstrim, yaitu: mengalami kenaikan harga tajam pada semester pertama dan mengalami kejatuhan harga yang signifikan pada semester kedua. Pada semester pertama 2008, hampir seluruh analisis tertuju pada melonjaknya harga pangan, sampai 2-3 kali lipat dibandingkan harga pangan di 2005. Tiga faktor utama yang sering dianggap bertanggung jawab terhadap eskalasi harga pangan dan pertanian di tingkat global, yaitu: (1) fenomena perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi pangan strategis, (2) peningkatan permintaan komoditas pangan karena konversi terhadap biofuel, dan (3) aksi spekulasi yang dilakukan para investor (spekulan) tingkat global karena kondisi pasar keuangan yang tidak menentu (Lihat Arifin, 2008).

Beberapa komoditas strategis mengalami penurunan harga pada semester kedua 2008, membuat banyak negara berupaya untuk fokus dan mempertajam strategi kebijakan pangannya agar tidak terjadi dampak sosial-ekonomi yang lebih buruk. Krisis keuangan global turut berkontribusi pada menurunnya permintaan komoditas secara umum karena daya beli yang sedang turun sehingga volume perdagangan pangan di tingkat global tiba-tiba berkurang secara signifikan. Walaupun belum terdapat analisis yang komprehensif, laju penurunan harga-harga pangan strategis sangat mungkin berkait erat dengan pergeseran volume perdagangan dari bursa saham ke bursa komoditas.

Pada sektor peternakan, produksi daging sapi nasional 2008 diperkirakan mencapai 465 ribu ton, suatu peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan angka 2007, 346 ribu ton. Meski demikian, produksi ini tidak mencukupi, sehingga harus menggantungkan kebutuhan daing sapi dari pasar luar negeri, terutama Australia dan Selandia Baru. Catatan impor sapi dari Australia mencapai lebih dari 520 ribu ekor (Noor, 2008) yang sebagian besar untuk dipotong, hanya sebagian kecil sebagai induk. Dengan potensi pasar yang sangat besar itu, tidak kurang dari 68 negara antri mencoba memasukkan daging dan produk daging ke Indonesia.

* * *

Estimasi data konsumsi daging di Indonesia berbeda menurut lembaga, namun berkisar total 2,6 kg/kap/th menurut Survai Sosial Ekonomi Nasional - Badan Pusat Statistik (Susenas BPS), sekitar 1,7 kg daging sapi menurut Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) plus 4,5 kg daging ayam menurut Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), serta 1,2 kg daging sapi plus 3,1 kg daging ayam menurut Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian (Deptan). Diperkirakan konsumsi daging di 2009 akan mengalami peningkatan.

Produksi daging ayam diperkirakan 1,4 juta ton pada 2008, suatu peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan produksi pada 2007 yang lalu (Badan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian, 2008). Walaupun demikian, produksi dan konsumsi daging ayam ini masih sangat sensitif terhadap isu biosafety seperti kasus flu burung serta dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkannya. Sifat konsumsi daging ayam yang sangat elastis terhadap perubahan harga dan perubahan selera konsumen adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pencapaian kinerja stabilisasi harga daging sapi, daging ayam dan produk peternakan ini. Akan tetapi, pada hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha, permintaan daging ayam dan telur di Indonesia meningkat secara signifikan, suatu pola rutin yang terkadang paradoksal apabila dikaitkan dengan upaya pengendalian konsumsi.

Dalam ekonomi pertanian, karakter perubahan permintaan tinggi seperti ini menjadi ciri khas Revolusi Peternakan, sesuatu yang sangat berkontribusi pada pencapaian ketahanan pangan, kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan ekonomi secara umum. Sektor peternakan memang mewarnai perubahan konsumsi masyarakat dari sumber kalori berbasis karbohidrat menjadi berbasis kandungan protein tinggi. Sekitar 56 persen dari konsumsi daging di Indonesia memang berasal dari unggas; cukup jauh dibandingkan dengan angka konsumsi daging sapi yang hanya 23 persen. Walaupun demikian, angka konsumsi daging unggas yang hanya setara 4,5 kilogram per kapita per tahun itu jelas sangat rendah atau seperlima dibandingkan dengan konsumsi daging negara-negara maju.

Sektor peternakan sangat berkait erat dengan sistem produksi jagung dalam negeri, sebagai kontributor utama penyediaan pakan ternak, baik langsung maupun tidak langsung. Menurut Angka Ramalan III (Aram III) Badan Pusat Statistik (BPS), awal November 2008, produksi jagung tahun ini diramalkan 15,9 juta ton, terutama karena peningkatan luas panen di Provinsi Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Lampung, dan Sumatera Utara. Tapi belum mampu mencapai target swasembada jagung, yang seharusnya telah tercapai sejak tahun lalu. Faktanya masih harus memenuhi konsumsi jagung dari pasar impor.

Hal yang agak positif adalah penggunaan benih unggul jagung hibrida, terutama hasil bioteknologi pertanian. Peningkatan produksi jagung hibrida juga mampu mendukung sektor peternakan karena industri pakan ternak ikut tumbuh pasca stagnansi yang cukup serius pada puncak krisis ekonomi. Membaiknya produksi jagung domestik agak membantu mengurangi ketergantungan sektor peternakan kecil terhadap pakan impor, dan sempat memberikan ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi. Akan tetapi, karena laju konsumsi jagung yang tumbuh lebih cepat, Indonesia masih harus mengandalkan jagung impor dalam jumlah yang cukup besar.

***

Untuk sektor perikanan, Indonesia masih mengandalkan ekspor ikan dan udang, khususnya ke Taiwan, Jepang, Korea dan sedikit Amerika Serikat. Produksi ikan secara kumulatif pada 2008 diperkirakan 8,1 juta ton, suatu peningkatan yang sangat signifikan (32 persen per tahun) dari angka produksi 6,1 juta ton pada 2004. Berhubung begitu kuatnya keterkaitan sektor perikanan tekanan ekonomi global, masyarakat sangat khawatir akan dampak krisis keuangan global saat ini, khususnya terhadap kesejahteraan nelayan, terutama nelayan skala kecil dan menengah. Sebelum krisis keuangan global, produksi perikanan di tingkat global diperkirakan 7,5 juta ton, termasuk 3,8 juta berasal dari budidaya udang. Maksudnya, produksi udang budidaya telah melebihi produksi perikanan konvensional, karena semakin intensifnya usaha budidaya udang. Angka ini lebih banyak didorong oleh tingginya produksi udang budidaya selama lima tahun terakhir dengan tingkat pertumbuhan 21 persen per tahun. Laju pertumbuhan udang budidaya diperkirakan melambat pada 5-6 tahun mendatang, dengan laju pertumbuhan 6 persen atau kurang.

Beberapa analisis telah menyimpulkan bahwa dampak langsung dari krisis keuangan global adalah menurunnya permintaan, terutama dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Akibat berikutnya dari kontraksi pasar ini adalah penurunan harga produk perikanan dan bahkan kekhawatiran gagal bayar karena persoalan finansial pada perusahaan skala besar. Disamping itu, kekhawatiran negara-negara besar importir produk perikanan terhadap dampak ekonomi global adalah kemungkinan penggunaan teknik budidaya perikanan yang tidak ramah lingkungan, karena nelayan mencoba untuk mengurangi biaya produksi. Apa pun yang terjadi, sektor perikanan di Indonesia perlu juga melakukan eksplorasi pasar-pasar ekspor baru, yang mungkin tidak terlalu ketat menerapkan persyaratan, seperti bidang lingkungan hidup dan sebagainya. Langkah-langkah pengembangan baru memerlukan kemampuan intelijen pasar yang tangguh, peraturan yang dapat merugikan dan tentu saja kemampuan analisis selera konsumen, dan sebagainya.

Terakhir, untuk para pejuang sektor peternakan masih harus berusaha keras meningkatkan produksi dan produktivitas daging sapi dan daging ayam, karena akan menjadi ciri khas indikator ketahanan pangan. Disamping itu, pada sisi konsumsi, para stakeholders ini (pemerintah, swasta dan masyarakat) perlu berjuang keras meningkatkan laju konsumsi daging ini untuk menunjukkan peran nyata terhadap kualitas gizi dan protein masyarakat dan tentunya kecerdasan bangsa Indonesia secara umum.

Sumber :
Bustanul Arifin
Guru Besar Universitas Lampung; Ekonom Senior INDEF
Majalah Trobos 01 Desember 2008, dalam :
http://barifin.multiply.com/journal/item/56